Postingan

Kenapa harus mengeluh?

Setiap yang hidup pasti punya masalah, apalagi manusia sebagai mahluk sosial yang punya banyak keinginan,banyak tanggungjawab dan terutama interaksi dengan manusia lainnya. Meskipun sesama manusia dilahirkan dengan derajat yang sama di mata Allah, tidak semua orang punya sikap yang arif dalam menghadapi masalah. Salah satu bentuk respon atas masalah yang dihadapi adalah mengeluh. Mengeluh pada intensitas yang wajar dan dilakukan dengan cara yang tepat kepada orang yang tepat adalah hal yang normal. Hal itu terjadi jika seseorang sedang berkonsultasi masalah kepada yang ahlinya dengan tujuan untuk mencari solusi masalah itu sendiri. Tetapi normalkah jika mengeluh ini dilakukan terus-menerus setiap kali seseorang mendapat masalah? Mengeluh sendiri ada dua macam, yaitu: -Pertama, mengeluh karena kesulitan : Mengeluh tipe ini terjadi karena seseorang merasa kehabisan cara mengatasi masalah yang ia hadapi. Masalah itu sendiri bisa berupa masalah kongkrit atau hal biasa tet...

Mau menegakkan syari'ah? Jangan tanggung-tanggung dong!

Aceh, daerah dengan keistimewaan syariat Islam sebagai pagar kehidupannya, justru sering diguncang kontroversi dengan beberapa qanun syariat yang diluncurkan oleh pemerintah daerahnya. Isu besar yang hangat dibicarakan saat ini yaitu rencana qanun yang mengatur wanita agar dilarang mengangkang saat berkendara motor. Pertanyaannya, tak ada hal lain yang lebih pentingkah untuk diperhatikan? sudah sempurnakah perilaku sehari-hari masyarakat yang berada dalam aturan qanun-qanun yang ada? Jika pemerintah maupun dinas syariat Islam, bahkan masyarakat Aceh pada umumnya mau berkaca... lihatlah yang terjadi sehari-hari, banyak perintah Allah yang wajib saja masih ditinggalkan oleh warganya. Setiap waktu shalat jum'at, banyak kaum lelakinya yang melalaikan dan bersembunyi di rumah, warung, kafe dan tempat-tempat lainnya, bahkan ada yang terang-terangan tidak melakukan shalat jum'at dengan alasan berhalangan dan alibi yang dibuat-buat. Di waktu shalat tarawih di bulan ra...

Radio Satria...Sepotong Cerita Semangat Kebersamaan Sebuah Kampung

Kampung halaman ibuku, kampung Bojongdanas, kecamatan Panumbangan, Ciamis, Jawa Barat, yang berada di kaki gunung Syawal, sekitar 3 km arah timur Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, menyimpan banyak cerita untuk dibagi. Sejak bersekolah, dua kali dalam setahun kuhabiskan waktu liburku di kampung ibuku itu, yaitu setiap libur lebaran dan libur panjang sekolah. Bukan hanya keindahan alam yang ditawarkan, kebersamaan dan semangat jiwa muda yang dimiliki warga dari segala usia di sini juga memberi kesan mendalam bagi yang melihatnya. Kampung yang lebih sering disebut 'Bonas' ini padat dengan kegiatan warga, terutama dalam bidang kesenian. Teater, vokal grup, sanggar tari dan beberapa kelompok kegiatan kesenian lainnya dibentuk. Satu yang paling menarik, sekitar awal tahun 90-an (kalau tidak salah ingat) sebuah radio komunitas dibentuk secara gotong-royong oleh warga. Studio radio ini ditempatkan di sebuah ruang kecil yang bersekat jadi dua ruangan, di kantor balai desa. ...

Baru belajar ya, mas?

Saat mengantri di depan sebuah mesin ATM yang terbuka, berdiri di depanku seorang pria setengah baya, bergaya perlente, sibuk bertelepon ria dengan hp canggihnya. Pikirku, pasti pria yang satu ini transaksinya berjumlah besar dan so pasti dia paham betul teknologi. Tibalah giliran pria tersebut menggunakan mesin ATM. Setelah memasukkan kartu ATMnya, tiba-tiba ia membungkuk saat membaca display di mesin tersebut dengan wajah kebingungan. Sesekali ia agak menegakkan badan, lalu membungkuk lagi, tetap dengan wajah bingungnya. Satu persatu tombol ATM pun ditekannya secara lambat seperti sedang mengeja tulisan. Itupun dilakukannya dengan sesekali membaca tulisan di layar hp-nya. Lalu ia kembali bungkuk, tegak, bungkuk, tegak. Kejadian yang cukup 'ajaib'. Belum pernah aku melihat pengguna mesin ATM dengan gaya seperti itu. Entah apa yang ditekannya lalu kartu ATMnya keluar dan dia kebingungan. Dicobanya lagi memasukkan kartu, menekan-nekan mesin ATM persis dengan gaya dan raut ...

Nasionalisme Versi Ibuku

Dua tahun lalu, ibuku tak bisa pasang bendera waktu agustusan karena benderanya sobek, mau beli katanya tanggung mending buat tahun depan.  Tahun kemaren, ibuku batal pasang bendera lagi krna tiang benderanya terpaksa dipakai untuk pengganti tiang antena tv yang patah. Tahun ini, tiang sudah ada, bendera sudah ada,..waktu dipasang tiba-tiba angin kencang dan tiangnya patah, bnderanya jatuh dan kotor.  Hasilnya.... setiap 17 agustusan ibuku tak pernah pasang bendera. Tapi, bicara nasionalisme... dia punya rasa yang kuat...  Ibuku lebih suka makanan Indonesia daripada makanan luar (jelas krna tak biasa lidahnya..) Ibuku lebih suka mendengar musik dan menonton film Indonesia daripada musik atau film asing (iya laah.. dia nggak ngerti bahasanya...) Dan yang pasti, ibuku tak suka gaya pakaian ala luar terutama pakaian ala barat, korea, dsb (tentu aja, mau dipakai kemana sama dia?...) Yang jelas, nasionalisme tidak bisa diukur dari apapun yang terlihat... it...

Jakarta Juga Kampung Gue...

Gue termasuk salah satu anak yang ditakdirin untuk ngerasain banyak hal di balik Jakarta punya cerita. Gimana enggak, sejak dibrojolin nyokap gue sampe lulus SMA alhamdulillah gue adem ayem aja hidup di Jakarta yang segitu panasnya. Meskipun sejak kuliah di salah satu kampus di Bandung kebanyakan aktifitas gue mulai beralih ke kota lain, Jakarta tetap jadi kampung idola gue.  Ngomong-ngomong soal Jakarta punya cerita, mungkin aspal di sepanjang kota Jakarta gak cukup buat ditulisin semua cerita di seputar kehidupan di kota ini. Begitulah kota multikultur yang satu ini, dari uda-uda nasi kapau, mbok jamu gendong, preman terminal sampai wan abud keturunan raja minyak dari Arab ada di sini. Istilah kerennya "numplek!" Di mata banyak orang, Jakarta punya berbagai kesan baik menyenangkan maupun menyebalkan. Dalam hal menyenangkan, Jakarta memang surganya fasilitas, apalagi di dunia hiburan. Berbagai arena wisata keluarga, pusat perbelanjaan, pusat jajanan sampe hiburan m...

Dilema Masyarakat Pesisir (Aceh)

Gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh pada tahun 2004 silam tak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan masyarakat Aceh. Peristiwa yang disaksikan milyaran mata di dunia melalui media itu juga tak luput dari ingatanku. Pasca kejadian tsunami, sempat terlintas dalam pikiranku pertanyaan mengapa jutaan warga tetap mendiami wilayah sepanjang garis pantai di sana.  Itu dulu... Perjalanan hidup membawaku ke Aceh. Bahkan, saat ini aku dan keluarga memutuskan untuk tinggal di daerah pesisir kota Banda Aceh. Lokasi strategis untuk miencurahkan hobi memancing bagi suamiku, suasana pantai yang tentram dan berbagai alasan lainnya mengantar kami tinggal di bibir pantai. Suara mesin perahu nelayan yang mondar-mandir setiap pagi dan sore jadi rutinitas yang mengisi hari-hari kami. Ibu-ibu dan remaja putri yang berburu tiram dan membersihkannya bersama-sama sambil bercanda di muara sungai, jaring nelayan yang dijerang depan rumah, sampai suara ketokan palu pembuat...