Pesan Kosong Penguat Pertemanan


Belakangan saya sadar, ada satu bentuk komunikasi yang sering saya lakukan dengan teman-teman dekat yang nyaris tak pernah kami sadari sebagai sesuatu yang “serius” yaitu mengirim pesan WhatsApp tanpa isi.

Kadang cuma satu emoji.

Kadang “eh” lalu hilang.

Kadang notifikasi muncul, tapi isinya: pesan ini telah dihapus.

Aneh? Tidak juga.

Justru kami paham betul maksudnya.

Dengan teman yang sudah dekat, komunikasi tidak selalu soal cerita panjang atau informasi penting. Kadang, yang dikirim hanyalah tanda kehadiran. Dan di situlah menariknya.

Komunikasi Tanpa Makna (Tapi Punya Rasa)

Dalam teori komunikasi, kebiasaan ini dikenal sebagai phatic communication, istilah yang diperkenalkan oleh Bronisław Malinowski. Intinya sederhana: komunikasi yang tujuannya bukan menyampaikan makna, melainkan cuma menjaga hubungan sosial.

Sapaan ringan, basa-basi, atau simbol kecil yang semuanya tidak membawa informasi baru, tapi memberi rasa aman bahwa kita masih terhubung.

Versi WhatsApp-nya?

Emoji tanpa konteks, stiker random, atau pesan yang diketik lalu dihapus.

Yang Penting Bukan Isinya, Tapi Ikut Hadir

James W. Carey menyebut ini sebagai ritual view of communication. Dalam pandangan ini, komunikasi bukan soal mengirim pesan dari A ke B, tapi soal partisipasi dalam sebuah kebiasaan bersama.

Makna tak harus dijelaskan.

Informasi tidak harus ada.

Yang penting: ikut “nongol”.

Mirip seperti melambaikan tangan ke tetangga. Tidak ada pesan khusus, tapi relasi tetap terjaga.

Simbol yang Sengaja Dikosongkan

Kalau ditarik lebih jauh, fenomena ini juga bisa dibaca lewat symbolic interactionism. Makna tidak melekat pada simbol; makna muncul karena kesepakatan bersama. Dengan teman dekat, satu emoji bisa berarti banyak atau justru tidak berarti apa-apa, dan itu tidak masalah.

Bahkan, dalam kacamata postmodern ala Jean Baudrillard, ini bisa disebut sebagai tanda tanpa referensi. Simbol yang tidak menunjuk ke realitas apa pun, selain dirinya sendiri. Pesan dikirim, bukan untuk menjelaskan, tapi sekadar… ada.

Pesan Kosong sebagai Bntuk Keintiman

Yang menarik, komunikasi semacam ini tidak bisa dilakukan dengan semua orang. Pesan kosong justru hanya aman di ruang yang sudah intim. Dengan orang yang belum dekat, pesan tanpa isi bisa dianggap aneh, tidak sopan, atau membingungkan.

Di sini saya belajar: kedekatan mengubah cara kita berkomunikasi. Semakin dekat, semakin sedikit kata yang dibutuhkan. Bahkan, kadang kata tidak diperlukan sama sekali.

Mungkin di dunia yang menuntut kita selalu jelas, produktif, dan bermakna, pesan kosong adalah jeda kecil yang jujur. Cara bilang, aku ada, tanpa harus menjelaskan apa-apa. Kalau pakai cara normal terus bosen kali ah, hehehe.

Dan dalam pertemanan yang hangat, itu sudah lebih dari cukup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengorganisasi Diri Sebelum Mengorganisasi Masyarakat

Pengalaman Room Tour di Rooms Inc untuk Rekomendasi Hotel di Semarang

Pidato Jokowi dan Kiprah Indonesia di PBB