Mengorganisasi Diri Sebelum Mengorganisasi Masyarakat


 

Catatan Seorang Pekerja Pemberdayaan Masyarakat

Mengapa Tim Selalu Jadi Medan Pertama

Sebagai pekerja di bidang pemberdayaan masyarakat, saya belajar satu hal penting dari lapangan: kerja komunitas tidak pernah benar-benar dimulai di desa, kampung, atau komunitas sasaran. Ia selalu dimulai jauh sebelumnya yakni di dalam diri kita sendiri, dan di dalam tim yang kita bangun.

Sebelum menghadapi masyarakat, seorang community development specialist (CDS) harus lebih dulu mengorganisasikan dan memberdayakan timnya secara maksimal. Tim bukan sekadar alat kerja, melainkan ruang sosial pertama tempat nilai, cara pandang, dan keterampilan komunikasi diuji. Di sanalah konflik kecil, ego personal, perbedaan latar belakang, hingga gap generasi muncul secara nyata.

Dalam pengalaman saya, kegagalan mengelola dinamika tim hampir selalu berbanding lurus dengan kegagalan membangun relasi dengan masyarakat. Tim adalah simulasi paling jujur dari masyarakat itu sendiri.



Menghadapi Manusia adalah Seni Berkomunikasi

Ilmu komunikasi mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar soal pesan, tetapi soal makna. Berger dan Calabrese melalui Uncertainty Reduction Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung menolak atau curiga terhadap hal yang tidak ia pahami. Ini berlaku di ruang rapat tim, dan berlaku pula di balai desa.

Di lapangan, saya menemukan bahwa menghadapi karakter manusia lainnya baik rekan kerja maupun warga adalah seni berkomunikasi. Kita tidak hanya berbicara, tetapi membaca situasi, mendengar yang tak terucap, dan memahami konteks di balik penolakan.

Di titik ini, symbolic interactionism dari George Herbert Mead menjadi relevan. Makna sosial tidak pernah datang dari atas, melainkan dibentuk melalui interaksi. Maka, jika seorang CDS datang dengan bahasa proyek tanpa memahami simbol, nilai, dan logika lokal, komunikasi akan berhenti sebelum benar-benar dimulai.

Konflik Bukan Musuh, Tapi Bahan Belajar

Dalam tim, konflik sering dipersepsikan sebagai hambatan. Padahal, Lewis Coser melalui teori konflik sosial menunjukkan bahwa konflik justru bisa memperkuat kelompok jika dikelola secara terbuka dan adil. Saya melihat sendiri bagaimana perbedaan generasi, latar pendidikan, dan gaya kerja dalam tim bisa menjadi kekuatan—asal tidak ditekan, tetapi difasilitasi.

Anthony Giddens lewat teori strukturasi mengingatkan bahwa struktur dan individu saling membentuk. Cara kita mengelola konflik di dalam tim akan membentuk struktur kerja yang kelak kita bawa ke masyarakat. Tim yang represif akan melahirkan pendekatan represif. Tim yang dialogis akan melahirkan kerja-kerja partisipatif.



Desa Tidak Pernah Sederhana

Saat turun ke masyaraka, terutama masyarakat desa, kompleksitas itu berlipat ganda. Desa bukan ruang kosong yang siap diisi program. Ia memiliki struktur formal dan informal, hierarki sosial, relasi kuasa, serta kearifan lokal yang tidak selalu tertulis.

Sebagai aktivis, saya belajar bahwa tidak ada dua desa yang benar-benar sama. Beda daerah berarti beda tradisi, beda sistem, beda cara mengambil keputusan. Bahkan dua desa dalam satu kecamatan bisa memiliki pola kepemimpinan dan logika sosial yang sangat berbeda.

Di sinilah pemikiran Robert Chambers tentang participatory rural appraisal menjadi relevan: orang luar tidak pernah benar-benar tahu sebelum ia mau belajar dari dalam. Begitu pula pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Kretzmann dan McKnight, yang mengingatkan bahwa masyarakat bukan kumpulan masalah, melainkan kumpulan aset.



Penolakan adalah Bagian dari Kerja Pemberdayaan

Dalam kerja pemberdayaan, penolakan bukan anomali tetapi ia adalah keniscayaan. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan, karena kesadaran tidak tumbuh dari instruksi, melainkan dari dialog.

Saya mengalami sendiri bagaimana ajakan yang ditolak hari ini bisa menjadi kerja sama esok hari, ketika komunikasi dibangun dengan hormat dan kesabaran. Penolakan sering kali bukan penolakan terhadap tujuan, melainkan terhadap cara kita datang.

Community Development: Kerja Ilmu, Kerja Nurani

Community development pada akhirnya adalah bidang yang mengawinkan banyak disiplin: sosiologi, antropologi, komunikasi, psikologi sosial, hingga ilmu pemerintahan dan tata kelola. Namun lebih dari itu, ia adalah kerja nurani.

Mengorganisasikan tim sebelum mengorganisasikan masyarakat bukan soal efisiensi manajerial, melainkan soal etika. Bagaimana mungkin kita bicara pemberdayaan jika di dalam tim sendiri suara tidak didengar?

Sebagai aktivis pemberdayaan masyarakat, saya percaya bahwa kualitas relasi menentukan kualitas perubahan. Program bisa berakhir, tetapi cara kita memperlakukan manusia akan selalu diingat. Dan di sanalah, sesungguhnya, kerja community development diuji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Room Tour di Rooms Inc untuk Rekomendasi Hotel di Semarang

Pidato Jokowi dan Kiprah Indonesia di PBB

Ikutan Blogger Gathering dan Berkeliling di Mal Tematik Terlengkap dan Terbesar di Semarang