Postingan

"Bukan Ratu Sejagat, Catatan Seorang Tourist Guide" Perjalanan Sahabatku Ira Lathief

Gambar
Pada tanggal 27 Juni 2019 lalu, sahabat saya Ira Lathief meluncurkan bukunya yang ke-17 yang menggambarkan keseruan profesi tour guide, kecintaannya pada kota tempat tinggalnya, tanah airnya serta rasa syukurnya pada anugerah yang ada di dirinya.  "Bukan Ratu Sejagat," kenapa ya judulnya gitu? Kata Ira, ia terilhami oleh tugas para duta negeri dalam ajang kecantikan internasional yang membawa misi mempromosikan kebudayaan dan keindahan negerinya masing-masing. Ira sadar dirinya bukan ratu sejagat tapi warganegara yang bangga pada tanah air dan warisan leluhurnya, yang juga menjadi duta bagi kota tempat tinggalnya. Tulisan Ira Lathief di buku ini adalah hasil kontemplasi panjang dengan caranya yang asyik dalam bertemu orang dari berbagai latar belakang budaya. Ini juga merupakan karya dari perenungan makna tanah kelahirannya ini bagi dirinya dan orang lain.  Ira mendapati bahwa sangat tidak berguna walau setinggi apapun ilmu seseorang dan sejauh apapun orang pernah me...

Si 'Ncah' jadi murid SD

Gambar
"Bunda, mulai sekarang panggil Ncah 'Aisha' atau 'Kania' aja ya... Ncah udah jadi anak SD kan udah besar....," itu di antara kata-kata ekspresinya menikmati masa-masa awal di sekolah dasar. Nama lengkapnya Aisha Ghaza Kania Aaralyn. Dia adalah anak kedua saya yang lahir di bulan Februari 2013. Di mata saya, dia adalah pribadi yang cukup 'complicated' karena punya sisi 'liar' dengan sisi lain masih polos dan cukup 'baper'. Dia sebetulnya tipikal anak yang kurang merasa nyaman pada keteraturan atau penyeragaman. Hobinya aja setiap hari main di lapangan atau kebun tetangga. Membuatnya mau main di dalam rumah secara 'baik-baik' aja susahnya minta ampun. Tapi fase hidup membawanya merasakan pendidikan formal. Setelah satu tahun saya leskan dia di pusat bimbingan membaca dan menulis, yang setiap sesi belajarnya cuma satu jam dan seminggu tiga kali, ia pun saya daftarkan ke sebuah SD negeri. Sekolahnya gak jauh, cuma sekitar...

Sop Gurame Kuah Putih yang Bikin Kangen

Beberapa waktu lalu saya bersama keluarga berkesempatan makan di sebuah resto seafood dan masakan indonesia di bilangan Bintaro. Fish Master 59 nama resto yang penampilan luar bangunannya mirip restoran fast food itu. Ternyata restoran itu cukup nyaman buat saya, suami dan anak-anak saya. Di interiornya banyak atribut pelaut, mungkin pemiliknya ingin menunjukkan bahwa menu laut yang disajikan di resto ini adalah menu segar dan berkualitas, seperti langsung dari laut. Menu demi menu pun saya amati dan saya melihat menu sop gurame Fish Master yang bikin saya penasaran. Begitu sop disuguhkan terlihat sebuah mangkuk jumbo berisi sop kental berkuah agak putih dengan potongan daging ikan gurame tanpa tulang. Begitu saya seruput kuahnya terasa lembutnya sari lobak dengan bumbu yang pas di lidah dan potongan daging gurame yang lembut. Apa yang membedakan menu gurame ini dengan menu gurame lainnya dan di tempat lain adalah daging gurame yang bebas dari bau tanah serta tekstur dan kuahnya y...

Kembali menulis di blog tercinta...

Pagi dini hari, saat embun menyeruak di daun-daun, hawa dingin menyusup lewat sela-sela ventilasi jendela. Sekian taun berlalu, catatan saya berserak di mana-mana. Lama tak menyapamu bahkan mendiamimu, blog kesayanganku. Hai...! Lama tak bersua...! Kau memang awet muda! Beda denganku yang sudah lemak dimana-mana, semakin pelupa, sibuk melanglang buana hingga lupa usia. Hehe.. Ah, saya kangen kamu, blog pertama yang saya buat dan akan saya pertahankan menjadi rumah bagi setiap tulisan saya. Selama ini saya tetap menulis tetapi kamu tak tersentuh. Padahal di luar sana penulis blog berlomba mengisi dan mempercantik blog kesayangan mereka. Maafkan saya yang lalai ya... yang sibuk dengan media-media sosial yang baru, yang bertebaran di luar sana, yang isinya tak selalu bermakna walau banyak juga yang berguna. Mereka di luar kadang ntah membicarakan apa. Ada yang hari-harinya selalu ceria, ada yang selalu bermanja-manja, ada yang dipenuhi murka durjana dan banyak yang mengundang iba. Saya ...

Belajar dari si Mbah...

Matahari belum juga muncul, sayup terdengar di kanan kiri rumahku ada ibu-ibu yang sudah mulai menyapu halaman. Hari masih setengah gelap dan sesosok manusia sudah memanggul bakul berisi bungkusan-bungkusan mie goreng dan pecel sayuran yang siap untuk dijual. Berpakaian sederhana yang setengah lusuh, mengenakan kain lilit setinggi betis dia berjalan tanpa alas kaki. Hari-hari aku memanggilnya si Mbah. Ya.. aku tak tahu persisnya namanya. Ada yang memanggilnya mbah Minah, mbah Nah, Mboke yuk Widi dan sebagainya.. Ya pokoknya si Mbah lah..!  Dia tinggal di seberang rumahku. Baru setahun aku tinggal di lingkungan ini dan si Mbah adalah orang yang konsisten pekerja keras dari awal kukenal. Dia tinggal di dua rumah sangat sederhana yang berdampingan yang berisi anak-anak dan cucu-cucunya. Dia menjajakan mie dan pecel dengan berjalan kaki. Entah sampai mana ia sanggup berjalan. Yang jelas, di siang hari biasanya ia sudah kembali ke rumah, menukar bakul gendongnya dengan a...

Hanya Bisa Bicara...

Aku hanya bisa berbicara... rangkaian yang kurekam dan menulisnya Itu saja senjata kupunya untuk melawan sesak yang kau buat Aku bukan mereka yang pintar berbuat menciptakan permainan teatrikal, dan bergeliat menjadikan sesuatu dari ketiadaan Aku paham ruangku tersekat Aku sadar jiwaku tlah penat tak bisa berbuat meski hati melihat karna... Aku hanya bisa berbicara rangkaian peristiwa yang kurekam dan menulisnya

Membangun Asa di Pulau Tercinta

Sekitar 13 km dari kota Manado, tepatnya di wilayah taman laut nasional Bunaken, Sulawesi Utara, bersemayam sebuah pulau yang subur berpagarkan hutan mangrovenya. Pulau ini memang terletak di wilayah pariwisata kesohor di negeri ini dan ditetapkan menjadi lokasi wisata karena taman dasar lautnya. Betapa tidak, ekosistem terumbu karang pulau Mantehage merupakan salah satu potensi laut istimewa yang dimiliki pulau ini. Tetapi, kondisi demikian tidak menjamin pulau yang dihuni lebih dari 2.000 jiwa yang terbagi di 4 desa ini memiliki infrastruktur yang berkecukupan. Listrik yang merupakan satu kebutuhan mendasar untuk kehidupan warga pun tidak bisa dinikmati 24 jam. Warga di pulau ini harus puas dengan menikmati penggunaan listrik selama 7 jam perharinya.  Keterbatasan pasokan listrik membuat warga haus akan hiburan dan menghabiskan waktu malam untuk menghibur diri dengan musik-musik yang diputar pada perangkat pengeras suara. Di tengah keterbatasan yang ada, warga mendirikan...